PKSTV LIVE

Software islami ensiklopedi hadits kitab 9 imam berisi kumpulan hadits dan terjemah
LIPUTAN TERBARU
Tampilkan postingan dengan label Kolom. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kolom. Tampilkan semua postingan

Ramadhan: Keqariban ditengah keghariban (pendekatan diri ditengah keterasingan) | Rahmat Abdullah

[postlink] https://infonasheed.blogspot.com/2012/07/ramadhan-keqariban-ditengah-keghariban.html[/postlink]
"Musuh-musuh ummat mestinya belajar untuk mengerti bahwa bayi yang dilahirkan ditengah badai tak akan gentar menghadapi deru angin. Yang biasa menggenggam api jangan diancam dengan percikan air. Mereka ummat yang biasa menantang dinginnya air di akhir malam, lapar dan haus di terik siang."-KH Rahmat Abdullah-



Tak pernah air melawan qudrat yang ALLAH ciptakan untuknya, mencari dataran rendah dan semakin kuat ketika dibendung dan menjadi nyawa kehidupan. Lidah api selalu menjulang dan udara selalu mencari daerah minimum dari kawasan maksimum, angin pun berhembus.

Edaran yang pasti dari keluarga galaksi, membuat manusia dapat membuat mesin pengukur waktu, kronometer, menulis sejarah, catatan musim dan penanggalan. Semua bergerak dalam harmoni yang menakjubkan. Ruh pun –dengan karakternya sebagai ciptaan ALLAH– menerobos kesulitan mengaktualisasikan dirinya yang klasik saat tarikan grativasi “bumi jasad” memberatkan penjelajahannya menembus hambatan dan badai cakrawala.

Kini –dibulan ini (Ramadlan)– ia begitu ringan, menjelajah langit ruhani. Carilah bulan diluar Ramadlan – saat orang dapat mengkhatamkan tilawah satu, dua, tiga sampai empat kali dalam sebulan. Carilah momentum saat orang berdiri lama dimalam hari, saat orang menyelesaikan sebelas atau dua puluh tiga rakaat. Carilah musim kebajikan saat orang begitu santainya melepaskan “ular harta” yang membelitnya.

Inilah momen yang membuka seluas-luasnya kesempatan ruh mengeksiskan dirinya dan mendekap erat-erat fitrah dan karakternya.

Marhaban ya syahra ramadlan Marhaban ya syahra’ as-shiyami
Marhaban ya syahra ramadlan Marhaban ya syahra’ al-qiyami.


Keqariban ditengah keghariban (pendekatan diri ditengah keterasingan)

Ahli zaman kini mungkin leluasa menertawakan muslim badui yang bersahaja, saat ia bertanya : “Ya Rasul ALLAH, dekatkah tuhan kita? Sehingga saya cukup berbisik saja atau jauhkah Ia sehingga saya harus berseru kepada-NYA?”

Sebagian kita telah begitu ‘canggih’ memperkatakan Tuhan. Yang lain merasa bebas ketika beban-beban orang bertuhan telah mereka persetankan.

Bagaimana rupa hati yang Ia tiada bertahta disana? Betapa miskinnya anak-anak zaman, saat mereka saling benci dan bantai. Betapa sengsaranya mereka saat menikmati kebebasan semu; makan, minum, seks, riba, suap, syahwat dan seterusnya, padahal mereka masih berpijak dibumi-NYA.

Betapa menyedihkan orang yang grogi menghadapi kehidupan dan persoalan, padahal Ia yang memberinya titah untuk menuturkan pesan suci-NYA. Betapa bodohnya masinis yang telah mendapatkan peta perjalanan, kisah kawasan rawan, mesin kereta yang luar biasa tangguh dan rambu-rambu yang sempurna, lalu masih membawa keluar lokonya dari rel, untuk kemudian menangis-nangis lagi di stasiun berikutnya, meratapi kekeliruannya. Begitulah berulang seterusnya.

Semua ayat dari 183 – 187 surah Al Baqarah bicara secara tekstual tentang puasa. Hanya satu ayat yang tidak menyentuhnya secara tekstual, namun sulit mengeluarkannya dari inti hikmah puasa. “Dan apabila hamba-hambaku bertanya tentang Aku, maka katakanlah : sesungguhnya Aku ini dekat…( Al Baqarah : 185).

Apa yang terjadi pada manusia dengan dada hampa kekariban (kedekatan) ini? Mereka jadi pandai tampil dengan wajah tanpa dosa didepan publik, padahal beberapa menit sebelum atau sesudah tampilan ini mereka menjadi drakula dan vampir yang haus darah, bukan lagi menjadi nyamuk yang zuhud. Mereka menjadi lalat yang terjun langsung kebangkai-bangkai, menjadi babi rakus yang tak bermalu, atau kera, tukangtiru yang rakus.

Bagaimana mereka menyelesaikan masalah antar mereka? Bakar rumah, tebang pohon bermil-mil, hancurkan hutan demi kepentingan pribadi dan keluarga, tawuran antar warga atau anggota lembaga tinggi Negara, bisniskan hukum, atau jual bangsa kepada bangsa asing dan rentenir dunia. Berjuta pil pembunuh mengisi kekosongan hati ini. Berapa lagi bayi lahir tanpa berstatus bapak yang syar’i? Berapa lagi rakyat yang menjadi keledai tunggangan para politisi bandit? Berapa banyak lagi ayat-ayat dan pesan dibacakan sementara hati tetap membatu? Berapa banyak lagi kurban berjatuhan sementara sesama saudara saling tidak peduli?


Al Qur’an dulu baru yang lain


Bacalah Al-Qur’an, ruh yang menghidupkan, sinari pemahaman dengan sunnah dan perkaya wawasan dengan sirah, niscahya Islam itu terasa nikmat, harmoni, mudah, lapang dan serasi. Al-Qur’an membentuk frame berfikir. Al-Qur’an mainstream perjuangan. Nilai-nilainya menjadi tolak ukur keadilan, kewajaran, dan kesesuaian dengan karakter, fitrah dan watak manusia. Penguasaan outline-nya menghindarkan pandangan parsial juz’i. penda’wahannya dengan kelengkapan sunnah yang sederhana, menyentuh, aksiomatis, akan memudahkan orang memahami Islam, menjauhkan perselisihan dan menghemat energi umat.

Betapa da’wah Al-Qur’an dengan madrasah tahsin, tahfiz dan tafhimnya telah membangkitkan kembali semangat keislaman, bahkan dijantung tempat kelahirannya sendiri. Ahlinya selalu menjadi pelopor jihad digaris depan, jauh sejak awal sejarah ini bermula. Bila Rasullah meminta orang menurunkan jenazah dimintanya yang paling banyak penguasaan Qur’annya. Bila menyusun komposisi pasukan, diletakannya pasukan yang lebih banyak hafalannya. Bahkan dimasa awal sekali ‘unjuk rasa’ pertama digelar dengan pertanyaan “Siapa yang berani membacakan surat Arrahman di ka’bah?” Dan Ibnu Mas’ud tampil dengan berani dan tak menyesal atau jera walaupun pingsan dipukul musyrikin kota Makkah.

Nuzul Qur’an di Hira, Nuzul Qur’an di hati

Ketika pertama kali Al-Qur’an diturunkan, ia telah menjadi petunjuk untuk seluruh manusia. Ia menjadi petunjuk sesungguhnya bagi mereka yang menjalankan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Ia benar-benar berguna bagi kaum beriman dan menjadi kerugian bagi kaum yang zalim. Kelak saatnya orang menyalakan rambu-rambu, padahal tanpa rambu-rambu kehidupan jadi kacau. Ada juga orang berfikir malam qodar itu selesai sudah karena ALLAH menyatakan dengan anzalnahu ( kami telah menurunkannya) tanpa melihat tajam-tajam pada kata tanazzalu’l Malaikatu wa’l Ruhu (pada malam itu turun menurunlah para malaikat dan ruh), dengan kata kerja permanen.

Bila malam adalah malam, saat matahari terbenam, siapa warga negeri yang tak menemukan malam; kafirnya dan mukminnya, fasiqnya dan shalihnya, munafiqnya dan shiddiqnya. Yahudi dan nasraninya? Jadi apakah malam itu malam fisika yang meliput semua orang dikawasan?

Jadi ketika Ramadhan di gua Hira itu malamnya disebut malam qadar, saat turun sebuah pedoman hidup yang terbaca dan terjaga, maka betapa bahaginya setiap mukmin yang sadar dengan Nuzulnya Al-Qur’an dihati pada malam qadarnya masing-masing, saat jiwa menemukan jati dirinya yang selalu merindu dan mencari sang Pencipta. Yang tetap terbelenggu selama hayat dikandung badan, seperti badanpun tak dapat melampiaskan kesenangannya, karena selalu ada keterbatasan dalam setiap kesenangan. Batas makanan dan minuman yang lezat adalah keterbatasan perut dan segala yang lahir dari proses tersebut. Batas kesenangan libido ialah menghilangnya kegembiraan dipuncak kesenangan. Batas nikmatnya dunia ketika ajal tiba-tiba menemukan rambu-rambu: Stop!

Puasa: Da’wah, Tarbiyah, Jihad dan Disiplin

Orang yang tertempa makan (sahur) disaat enaknya orang tertidur lelap atau berdiri lama malam hari dalam shalat qiyam Ramadlan, setelah siangnya berlapar haus atau menahan semua pembantal lahir bathin, sudah sepantasnya mampu mengatasi masalah-masalah da’wah dan kehidupannya tanpa keluhan, keputusasaan atau kepanikan.

Musuh-musuh ummat mestinya belajar untuk mengerti bahwa bayi yang dilahirkan ditengah badai tak akan gentar menghadapi deru angin. Yang biasa menggenggam api jangan diancam dengan percikan air. Mereka ummat yang biasa menantang dinginnya air diakhir malam, lapar dan haus diterik siang.

Mereka biasa berburu dan menunggu target perjuangan, jauh sampai keakhirat negeri keabadian, dengan kekuatan yakin yang melebihi kepastian fajar menyingsing. Namun bagaimana mungkin bisa mengajar orang lain, orang yang tak mampu memahami ajarannya sendiri? “Fadiqu’s Syai’la Yu’thihi’ (yang tak punya apa-apa tak kan mampu memberi apa-apa).

Wahyu pertama turun dibulan Ramadlan, pertempuran dan mubadarah (inisiatif) awal di Badar juga di bulan Ramadlan dan Futuh (kemenangan) juga di bulan Ramadlan. Ini menjadi inspirasi betapa madrasah Ramadlan telah memproduk begitu banyak alumni unggulan yang izzah-nya membentang dari masyriq ke maghrib zaman.

Bila mulutmu bergetar dengan ayat-ayat suci dan hadits-hadits, mulut mereka juga menggetarkan kalimat yang sama. Adapun hati dan bukti, itu soal besar yang menunggu jawaban serius. ~KH. Rahmat Abdullah~

*)http://iqronews.wordpress.com/2011/07/28/renungan-ramadlan/


*posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Indonesia

Saudaraku, Mari Sejenak Kita Beriman

[postlink] https://infonasheed.blogspot.com/2012/07/saudaraku-mari-sejenak-kita-beriman.html[/postlink]


Ilustrasi (iluvislam.com)

Saudaraku, melihat wajahmu saja, hati ini kembali bergemuruh…
Iman terasa memasuki rongga-rongga tak terlihat…
Bukankah kalian adalah cermin bagi diri…
Wahai saudaraku, mari sejenak kita beriman…


Ilustrasi (iluvislam.com)

dakwatuna.com - Semoga ada wajah-wajah yang tak pernah mengeluh. Mengeluh akan amanah. Mengeluh akan sebuah kesibukan. Masih banyak kewajiban yang harus segera ditunaikan. Jatah waktu yang terus berkurang. Amanah akan terasa sebagai beban. Bukankah dakwah tak membutuhkan kita, kita lah yang membutuhkan dakwah. Dakwah ibarat kereta yang akan meninggalkan stasiun-stasiun. Kereta yang terdiri dari berbagai gerbong. Kereta itu akan tetap melaju meski tanpa gerbong.

Kekuatan seorang muslim ada pada malam sebagai waktu terbaik pengaduan. Air mata muhasabah membasahi seluruh permukaan wajah. Hanya Allah tempat terbaik untuk mencurahkan. Apapun yang akan terjadi. Ingatlah bahwa ketika kau tidak mempunyai siapa-siapa selain Allah. Allah itu lebih dari cukup bagi seorang muslim.

Semoga persaudaraan kita tak dapat diukur oleh harta. Tak dapat diukur oleh perhiasan ataupun kekayaan lainnya. Semua itu bersifat sementara. Namun, keberadaan seorang saudara yang shalih jauh lebih bernilai untuk terus meluruskan niat. Untuk terus menempa diri menjadi lebih baik. Sungguh tak ada yang dapat menggantikan posisi ataupun kedudukan seorang saudara di hati seorang muslim.

Semoga ada wajah-wajah yang tak pernah mengajak kita untuk menggunjing, memfitnah, dan sibuk dengan aib orang lain, namun lalai akan kekurangan dirinya sendiri. Semoga kebersamaan dengan saudara kita bukan sebagi penambah dosa kita, namun sebagai pemberat amalan kita.

Semoga selalu ada saudara seperti Abu Bakar yang membenarkan dan senantiasa menjaga kepercayaan saudaranya yang telah dibangun sejak lama. Semoga selalu ada saudara seperti Umar Al-Faruq yang selalu hati-hati mengingatkan kita, bersama menegakkan kebenaran dan melawan kebathilan. Bukankah amalan jamaah lebih baik dan terasa ringan dibanding amalan munfarid? Semoga selalu ada saudara seperti Utsman, dengan kelembutannya banyak orang lain turut mencintainya, membangun bersama citra positif Islam. Sebab saudara ibarat lem perekat dalam perjuangan meniti jalan.

Kita rindu bersua dengan wajah-wajah ini dalam perjalanan. Keberadaan saudara yang saling menguatkan, bukan malah melemahkan. Nasihat bijak sebagai teguran. Bukan teguran di depan umum yang diharapkan namun kelembutan hati nan ketulusan.

Inilah dia wajah-wajah keimanan. Yang digambarkan Rasulullah yang satu menjadi cermin yang lain. Ada inspirasi saat memandangnya. Ada ide cemerlang dan energi isi ulang melihat keteduhannya. Ada muhasabah diri saat berada di dekatnya. Subhanallah, betapa kita merindukan wajah-wajah seperti itu. Wajah-wajah itu adalah wajah-wajah saudara kita di jalan Allah.

Kita rindu wajah Ash-Siddiq Abu Bakar yang membuat kita tak lagi merasa ragu dan bimbang. Kita rindu wajah Al-Faruq untuk membuang segala perasaan takut (pengecut) kita. Kita rindu wajah Utsman yang selalu pemalu dalam bersikap. Kita rindu wajah Ali yang selalu bersahaja dalam berbuat.

Wajah-wajah saudara kita di jalan Allah menjadi warna tersendiri dalam menghiasi perjuangan kita. Kita tak sendiri, selalu ada mereka yang menguatkan, selalu ada nasihat bijak yang disampaikan, selalu ada salam yang menentramkan.

“Itulah yang diperbuat Keimanan…
Membuka mata dan hati…
Menumbuhkan kepekaan…
Menyirai kejelitaan, keserasian, dan kesempurnaan…
Iman adalah persepsi baru terhadap alam…
Apresiasi baru terhadap keindahan,
dan kehidupan di muka bumi,
di atas pentas ciptaan Allah,
Sepanjang malam dan siang…

(Sayyid Quthb)

Saudaraku, mari sejenak kita beriman…



Adaptasi dari salah satu bab “Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim”

Sumber : www.dakwatuna.com

 
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger